Article
Qur’anic Readings and Malay Translations in 18th-Century Banten Qur’ans A.51 and W.277
- Title
- eng Qur’anic Readings and Malay Translations in 18th-Century Banten Qur’ans A.51 and W.277
- Alternative Title
- ind Bacaan Al-Qur'an dan Terjemahan Bahasa Melayu pada Manuskrip Al-Qur'an Banten Abad ke-18 (A.51 dan W.277)
- Date
- 2020
- Language
- EnglishSee all items with this value
- Abstract
- eng This article examines two copies of the Qur’an from 18th-century Banten held in the National Library of the Republic of Indonesia, A.51 and W.277, that contain interlinear Malay translations, focusing on two aspects, i.e. Qur’anic readings and Malay translations, to reveal Qur’anic pedagogical practices in the region. This article suggests that differences in the way a Qur’anic reading is used for the writing of the Qur’an guide us to understand the users and their levels of acquired skills and knowledge. In this regard, the Qur’an A.51 was possibly used for those who gained high level skills in Qur’anic recitation, while the Qur’an W.277 was possibly made for students at basic levels or ordinary Muslims. Meanwhile, the examination of their Malay translations reveals that both present a different style in rendering, compared to those in two 17th-century Malay commentaries (i.e. the Cambridge manuscript Or. Ii.6.45 and the Tarjumān) and the Jalālayn, a well known work on Qur’anic exegesis in the Muslim world. In a broader context, this article affirms the existence of Malay translations in the Qur’ans A.51 and W.277 as a proof for the continuation of Malay exegetical activities in 18th century after the composition of the Tarjumān in the late 17th century.
- ind Artikel ini mengkaji dua naskah Al-Qur’an dari Banten abad ke-18 yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia—yaitu A.51 dan W.277—yang memuat terjemahan bahasa Melayu di antara baris teks Arabnya. Kajian ini berfokus pada dua aspek, yakni ragam bacaan Al-Qur’an dan terjemahan bahasa Melayu, guna mengungkap praktik pedagogis terkait Al-Qur’an di wilayah tersebut. Artikel ini mengemukakan bahwa perbedaan dalam penerapan ragam bacaan Al-Qur’an pada naskah-naskah tersebut memberikan petunjuk mengenai siapa penggunanya serta tingkat keterampilan dan pengetahuan yang mereka miliki. Dalam hal ini, naskah A.51 kemungkinan digunakan oleh mereka yang telah memiliki keterampilan tinggi dalam seni baca Al-Qur’an, sedangkan naskah W.277 kemungkinan dibuat untuk pelajar tingkat dasar atau kalangan Muslim awam. Sementara itu, analisis terhadap terjemahan bahasa Melayunya menunjukkan adanya gaya penerjemahan yang berbeda dibandingkan dengan dua karya tafsir Melayu abad ke-17 (yakni manuskrip Cambridge Or. Ii.6.45 dan *Tarjumān*) serta *Jalālayn*, sebuah karya tafsir Al-Qur’an yang termasyhur di dunia Islam. Dalam konteks yang lebih luas, artikel ini menegaskan bahwa keberadaan terjemahan bahasa Melayu pada naskah A.51 dan W.277 merupakan bukti berlanjutnya aktivitas penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Melayu pada abad ke-18, setelah penyusunan *Tarjumān* pada akhir abad ke-17.
- Is Part Of
- Indonesia and the Malay World
- volume
- 48
- issue
- 141
- Bibliographic Citation
- Nurtawab, E. (2020). Qur’anic Readings and Malay Translations in 18th-Century Banten Qur’ans A.51 and W.277. Indonesia and the Malay World, 48(141), 169–189. https://doi.org/10.1080/13639811.2020.1724469