Article
The Kubrawī and early Javanese Islam: Re-assessing the significance of a 16th-century Kubrawī silsila in the Sejarah Banten Ranté-Ranté
- Title
- eng The Kubrawī and early Javanese Islam: Re-assessing the significance of a 16th-century Kubrawī silsila in the Sejarah Banten Ranté-Ranté
- Alternative Title
- ind Kubrawī dan Islam Jawa awal: Mengkaji kembali pentingnya silsila Kubrawī abad ke-16 dalam Sejarah Banten Ranté-Ranté
- Creator
- Wain, Alexander 1982-
- Date
- 2021
- Language
- EnglishSee all items with this value
- Abstract
- eng Beyond somewhat vague allusions to Sufi influence, a qualitative sense of early Javanese Islamic praxis remains sadly lacking among scholars. This article attempts to rectify that deficiency by re-assessing the importance of a Kubrawī silsila (spiritual genealogy) found within the 17th- to early 18th-century Javanese chronicle, Sejarah Banten Ranté-Ranté. First identified by Martin van Bruinessen in 1994, this silsila preserves detailed information about two separate Sunni-orientated Kubrawī lineages attributable to the latter’s Central Asian sub-branch, the Hamadānī. Set within the context of other early Javanese Muslim texts containing previously overlooked evidence of Kubrawī praxis, in addition to hagiographical traditions identifying one Jumadil Kubra (a probable cypher for Kubrawī founder, Najm al-Dīn al-Kubrā) as the island’s earliest Muslim practitioner and a resident of Gresik, we argue that this silsila indicates considerable Kubrawī influence over Java’s initial Islamisation. Further consideration of the silsila’s specific Hamadānī characteristics set against wider 13th- to 15th-century Islamic history suggests either a north Indian or, more probably, Sino-Muslim origin for that influence. We therefore conclude by interpreting the Sejarah Banten silsila as a possible window onto the substantive nature of Sino-Muslim involvement in early Javanese Islam, adding further nuance to our understanding of that island’s Islamisation.
- ind Terlepas dari berbagai penyebutan yang agak samar mengenai pengaruh Sufi, pemahaman kualitatif mengenai praktik keislaman Jawa masa awal masih sangat minim di kalangan para akademisi. Artikel ini berupaya mengatasi kekurangan tersebut dengan mengkaji ulang pentingnya sebuah *silsila* (silsilah spiritual) tarekat Kubrawi yang termuat dalam *Sejarah Banten Ranté-Ranté*, sebuah kronik Jawa dari abad ke-17 hingga awal abad ke-18. *Silsila* ini—yang pertama kali diidentifikasi oleh Martin van Bruinessen pada tahun 1994—menyimpan informasi rinci mengenai dua garis keturunan Kubrawi berhaluan Sunni yang berasal dari sub-cabang Asia Tengah tarekat tersebut, yakni cabang Hamadani. Dengan menempatkan temuan ini dalam konteks teks-teks Muslim Jawa awal lainnya yang memuat bukti praktik Kubrawi yang sebelumnya terabaikan—serta tradisi hagiografis yang mengidentifikasi sosok Jumadil Kubra (yang kemungkinan merupakan nama samaran bagi pendiri tarekat Kubrawi, Najm al-Dīn al-Kubrā) sebagai praktisi Muslim paling awal di pulau tersebut dan penduduk Gresik—kami berargumen bahwa *silsila* ini mengindikasikan adanya pengaruh Kubrawi yang signifikan terhadap proses awal Islamisasi di Jawa. Analisis lebih lanjut mengenai karakteristik Hamadani yang khas pada *silsila* tersebut, jika dikaitkan dengan sejarah Islam yang lebih luas pada abad ke-13 hingga ke-15, mengisyaratkan bahwa pengaruh tersebut kemungkinan besar berasal dari kalangan Muslim Tiongkok (Sino-Muslim), atau alternatifnya, dari India utara. Oleh karena itu, kami menyimpulkan dengan menafsirkan *silsila* dalam *Sejarah Banten* tersebut sebagai jendela untuk memahami sifat substantif keterlibatan Muslim Tiongkok dalam Islam Jawa masa awal, sekaligus memberikan nuansa baru bagi pemahaman kita mengenai proses Islamisasi di pulau tersebut.
- Is Part Of
- Indonesia and the Malay World
- volume
- 49
- issue
- 143
- Bibliographic Citation
- Wain, A. (2021). The Kubrawī and early Javanese Islam: Re-assessing the significance of a 16th-century Kubrawī silsila in the Sejarah Banten Ranté-Ranté. Indonesia and the Malay World, 49(143), 42–62. https://doi.org/10.1080/13639811.2021.1875658