Bahasa Jawa Dialek Banten: Sebuah Tinjauan
BAB I: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberadaan bahasa Jawa dialek Banten di kalangan generasi muda saat ini mengalami tren penurunan yang nyata. Berdasarkan studi sosiolinguistik oleh Suherman (2015) di Desa Gerem, Kota Cilegon, tingkat penggunaan bahasa daerah di kalangan remaja (38,88%) tercatat jauh tertinggal dibandingkan dengan kelompok anak-anak (75,42%) maupun orang dewasa (43,75%). Pola pergeseran bahasa ini sejalan dengan temuan Fauzan dkk. (2022) mengenai penyempitan ruang tuturan bahasa daerah di kalangan pemuda Banten. Di lingkungan sekolah formal, bahasa daerah kerap hanya diposisikan sebagai mata pelajaran muatan lokal dengan alokasi waktu terbatas, sehingga membatasi ruang interaksi lisan dan penggunaan praktis dalam komunikasi harian anak didik.
Di sisi lain, tradisi literasi keagamaan di Banten pada masa lampau sangat lekat dengan penggunaan aksara Pegon, khususnya di lingkungan pesantren salaf untuk mengkaji berbagai kitab kuning (Ghofur dkk., 2023; Kuswanto dkk., 2025). Kendati demikian, seiring dengan modernisasi pendidikan, aksara Pegon kian tersisih dari kurikulum sekolah formal (Kuswanto dkk., 2025) dan mulai asing bagi sebagian santri muda di institusi keagamaan modern (Taufiq dkk., 2022). Kondisi ini berimplikasi langsung pada melemahnya kemampuan generasi muda di luar tradisi pesantren dalam membaca, memahami, dan mengalihaksarakan naskah-naskah kuno bernilai sejarah tinggi.
Dalam ranah dokumentasi tertulis, bahasa Jawa dialek Banten tumbuh subur dalam tradisi lisan, namun terbilang minim dokumentasi formal yang komprehensif. Upaya leksikografi sejauh ini telah dirintis oleh peneliti terdahulu, diawali oleh Mas Mangun Di Karia (1914) melalui karya Dialect Djawa-Banten, yang kemudian dilanjutkan oleh Munadi Patmadiwiria (1977) dengan Kamus Dialek Jawa Banten–Indonesia. Kendati usaha pioneering tersebut telah memberikan fondasi leksikografi yang sangat berharga, keberadaan korpus teks, tata bahasa deskriptif, dan perangkat pembelajaran bahasa Jawa Banten secara digital dan modern masih perlu terus diperkuat dan diperbarui.
1.2 Tujuan dan Metode
Berpijak pada dinamika tersebut, tulisan ini bertujuan untuk merangkum, memetakan, dan menyintesis perkembangan serta karakteristik bahasa Jawa dialek Banten melalui dimensi sejarah filologis, sistem bunyi (fonologi), pembentukan kata (morfologi), struktur kalimat (sintaksis), hingga dinamika kosakatanya, sekaligus merangsang minat belajar baca-tulis aksara Pegon agar warisan intelektual khas Banten tidak lekang oleh zaman. Kajian ini disusun menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan menelaah secara kritis berbagai riset linguistik, naskah filologi, dokumen kebijakan pemerintah daerah, serta media pembelajaran relevan.
1.3 Batasan Terminologi dan Kontak Bahasa
Penggunaan istilah "bahasa Jawa dialek Banten" dalam kajian ini dipilih sesuai dengan terminologi baku yang digunakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Iskandarwassid dkk., 1985; Patmadiwiria, 1977). Dalam literatur dan pergaulan masyarakat sehari-hari, variasi penamaan lain kerap muncul, seperti Jawa Serang, Jaseng, atau Jawa Babasan Banten. Penyeragaman terminologi ini penting untuk menghindari kesalahpahaman akademis, mengingat variasi istilah lokal tersebut tidak mengindikasikan perbedaan entitas bahasa yang terpisah.
Sebagai wilayah geopolitik yang dinamis, kawasan Banten—khususnya perbatasan Kabupaten Serang dan Tangerang—menunjukkan persentuhan intensif antara bahasa Jawa dialek Banten dengan bahasa Sunda, ragam bahasa Jawa wilayah lain, bahasa Betawi, serta bahasa Lampung. Kontak kebahasaan ini meninggalkan jejak struktural yang jelas pada tataran leksikal maupun fonologis (Rohbiah, 2022; Rohbiah & Mu'awwanah, 2023).
1.4 Konvensi Penulisan
Guna menjaga ketepatan makna dan kemudahan pembacaan, beberapa konvensi penulisan diterapkan dalam naskah ini:
- Simbol fonetis dalam kurung siku, seperti [ə], merujuk pada transkripsi bunyi murni.
- Huruf ê digunakan untuk merepresentasikan bunyi pepet (schwa [ə]), huruf é menandai bunyi e taling tertutup [e], dan huruf è menandai bunyi e taling terbuka [ɛ] (Maulida Diva Karamah, 2026).
- Contoh leksikal bahasa daerah disajikan dengan cetak miring (italics) disertai terjemahan dalam tanda kutip ganda ("...").
- Penulisan aksara Pegon merujuk pada pedoman transliterasi standar, dengan catatan bahwa manuskrip klasik Banten umumnya ditulis tanpa harakat (gundhil).
Mengingat keterbatasan korpus dan referensi yang ada, seluruh contoh kebahasaan yang dipaparkan dalam tulisan ini hendaknya dipahami sebagai representasi empiris dari sumber rujukan terkait, bukan sebagai standar norma baku mutlak yang berlaku seragam di seluruh wilayah Provinsi Banten.
BAB II: BUKTI DARI NASKAH KUNO
2.1 Tradisi Filologi dan Khazanah Manuskrip Banten
Rekam jejak sejarah kebahasaan dan tradisi tulis di Banten dapat dilacak secara otentik melalui korpus naskah kuno peninggalan era Kesultanan Banten. Dokumentasi sejarah ini membuktikan bahwa bahasa Jawa beraksara Pegon telah berfungsi sebagai bahasa resmi administrasi, hukum, dan diplomasi internasional jauh sebelum era modern. Khazanah manuskrip tersebut secara garis besar terbagi ke dalam tiga kelompok utama:
- Register Pengadilan Kadi (1754–1756)
Ayang Utriza Yakin (2015) mengkaji naskah bernomor katalog LOr 5626 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah ini berisi risalah putusan dan penyelesaian perkara hukum di hadapan Kiyahi Pěqih Najmuddin, Hakim Kadi Kesultanan Banten. Dokumen hukum ini mencakup spektrum kasus yang luas, meliputi sengketa pernikahan, talak, kewarisan, utang-piutang, hingga tindak pidana kekerasan.
Naskah ini ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon tanpa harakat (gundhil). Melalui analisis paleografis—salah satunya kebiasaan penyalin dalam membubuhkan tanda titik pada huruf dāl (ڊ)—Yakin (2015) mengonfirmasi bahwa penyalin naskah tersebut dapat diidentifikasi secara kuat sebagai penutur asli bahasa Jawa dialek Banten. - Arsip Surat-Surat Kesultanan Banten (1802–1806)
Titik Pudjiastuti (2007) menghimpun dan menyunting korespondensi diplomatik Kesultanan Banten yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Tiga surat diplomatik pilihan memperlihatkan penggunaan aksara Pegon dan variasi register bahasa Jawa, sebagaimana dirangkum dalam Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Ringkasan Dokumen Surat Kesultanan Banten (1802–1806) (Sumber: Pudjiastuti, 2007)
| No. Surat | Pihak Pengirim & Penerima | Tahun | Kode Naskah UB Leiden | Pokok Isi Surat |
|---|---|---|---|---|
| No. 45 | Jaga Kewura & Pangeran Wiratama kepada Ki Arya Nitinagara | 1802 | Cod. Or. 2241 III b.7 (No. 233) | Penolakan penjualan komoditas merica kepada Kapten Bargas atas dasar kepatuhan pada perintah Sultan Banten. |
| No. 51 | Pangeran Rajabasa (Lampung) kepada Kiai Abdullah | c. 1806 | Cod. Or. 2241 III b.18 (Klt 13/No. 247) | Laporan masuknya tiga kapal di Lampung serta instruksi penjualan merica kepada pihak Inggris untuk Raden Inten. |
| No. 53 | Haji Abdullah kepada Sultan Banten | c. 1806 | Cod. Or. 2241 III b.19 (Klt 12/No. 246) | Laporan intelijen pergerakan kapal asing dan aktivitas kepulangan Raden Inten dari Bengkulu. |
Analisis tekstual terhadap dokumen di atas menunjukkan variasi penggunaan tingkat tutur yang disesuaikan dengan posisi sosial penerima surat:
- Surat No. 45 memadukan register halus (kula "saya", boten "tidak", ngaturi uning "memberi tahu") dengan bentuk ragam biasa/standar (sun "saya", ora "tidak"), seperti terlihat pada kalimat: "sun ora sanggup aweh sabab sun wedi ing gustinisun" ("saya tidak sanggup memberi karena saya takut kepada tuan saya") (Pudjiastuti, 2007).
- Surat No. 53 yang ditujukan langsung kepada Sultan Banten secara konsisten menggunakan ragam halus (kawula, wonten, dhateng, sampun) dan ditutup dengan formula doa berbahasa Arab (Pudjiastuti, 2007).
Secara fungsional, korpus surat tersebut membuktikan peran vital bahasa Jawa Banten dan aksara Pegon dalam urusan perniagaan internasional (tata niaga merica) serta navigasi geopolitik menghadapi kekuatan kolonial Belanda dan Inggris.
- Kodeks Undhang-Undhang Bantĕn
Yakin (2016) meneliti kodeks naskah Cod. Or. 5598 di Leiden yang memuat sebelas teks hukum tradisional Kesultanan Banten. Manuskrip ini menunjukkan keunikan ortografis di mana 65 halaman pertama ditulis dalam aksara Jawa tradisional (hanacaraka), disusul sekitar 140 halaman menggunakan aksara Pegon berharakat (gaya naskhi), serta sebagian kecil dalam format Pegon gundhil. Kehadiran sisipan 11 halaman berbahasa Melayu di dalam kodeks yang sama membuktikan bahwa masyarakat Banten pada era kesultanan hidup dalam ekosistem multibahasa dan multiliterasi (Yakin, 2016).
2.2 Implikasi Sejarah dan Kebahasaan
Secara komprehensif, telaah atas register kadi, arsip surat kesultanan, dan kodeks hukum mengindikasikan bahwa aksara Pegon telah mapan sebagai instrumen administratif, legal, dan diplomatik resmi di Banten. Kendati demikian, data naskah tertulis ini perlu disikapi secara kritis; dokumen sejarah formal belum cukup memadai untuk menarik kesimpulan linier mengenai bahasa lisan sehari-hari masyarakat awam pada masa tersebut. Pembuktian hubungan antara ragam tulis naskah dan ragam lisan masyarakat menuntut dukungan data epigrafi dan riset sosiolinguistik historis lanjutan.
BAB III: WILAYAH, MASYARAKAT, DAN ESTIMASI DEMOGRAFI PENUTUR
3.1 Peta Geografis Penutur Bahasa Jawa Dialek Banten
Persebaran geografis penutur bahasa Jawa dialek Banten secara umum terpusat di wilayah utara Provinsi Banten, meliputi sebagian besar Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, serta kawasan enclave (kantong penutur) di bagian barat Kabupaten Tangerang seperti Kecamatan Kronjo, Mekar Baru, dan Mauk (Chudari, 2012; Enawar dkk., 2024; Maryani, 2016).
Batas wilayah penuturan ini bersifat dinamis (isogloss terbuka), sebab batas kebahasaan tidak pernah beririsan secara simetris dengan garis administratif pemerintahan. Di dalam wilayah Banten sendiri, wilayah tuturan bahasa Jawa bertetangga langsung dengan penutur bahasa Sunda Banten. Menurut pemetaan Badan Bahasa (sebagaimana dikutip dalam Falah, 2018), bahasa Jawa di Banten terbagi ke dalam dua sub-dialek utama:
- Sub-dialek Pantai Utara (Pantura): Dituturkan di kawasan pesisir Serang dan Cilegon.
- Sub-dialek Cikoneng: Dituturkan di kawasan enklave Cikoneng, Kabupaten Pandeglang, dengan tingkat perbedaan dialektometri mencapai 55% dibandingkan dialek Pantura (Falah, 2018).
3.2 Estimasi Demografi Penutur
Hingga kini, belum tersedia data sensus resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menghitung jumlah penutur secara spesifik berdasarkan dialek kebahasaan, karena sensus nasional umumnya mengelompokkan warga berdasarkan kategori etnis secara umum. Oleh karena itu, data demografi penutur diperoleh melalui estimasi berbagai lembaga independen yang perlu dibaca secara cermat:
Tabel 3.1 Estimasi Indikator Demografis Penutur
| Indikator Demografis | Estimasi Angka | Sumber Pustaka & Catatan Metodologis |
|---|---|---|
| Komunitas Java Banten | 337.000 jiwa | Estimasi Joshua Project; angka ini berbasis komunitas etnis dan tidak mempublikasikan metodologi survei linguistiknya secara rinci. |
| Penutur Bahasa Jawa di Banten | 500.000 jiwa | Data Ethnologue edisi ke-18 (Lewis dkk., 2015) berdasarkan proyeksi historis sensus tahun 2000. |
| Total Populasi Proyeksi BPS (2026) | 12.641.300 jiwa | Data BPS Provinsi Banten (2026) mencakup Kabupaten Serang (1,73 juta), Kota Serang (756 ribu), Kota Cilegon (465 ribu), dan Kabupaten Tangerang (3,46 juta). Angka ini adalah populasi total penduduk, bukan penutur aktif bahasa daerah. |
3.3 Vitalitas Bahasa dan Pergeseran Sosiolinguistik
Riset empiris oleh Suherman (2015) terhadap masyarakat bilingual di Kelurahan Gerem, Kota Cilegon, memberikan gambaran terukur mengenai vitalitas bahasa Jawa Banten saat ini. Hasil riset menunjukkan tingkat pemertahanan bahasa yang berbeda-beda berdasarkan ranah interaksi:
- Domain Domestik (Keluarga): 71,56% (sangat kuat).
- Domain Keagamaan: 64,33% (kuat).
- Domain Interaksi Tetangga: 56,00% (sedang).
- Domain Pergaulan Sebaya: 47,17% (mulai menurun).
- Domain Transaksi Ekonomi: 41,00% (terdesak bahasa Indonesia).
- Domain Pendidikan & Birokrasi: 32,50%–40,50% (Sangat rendah) (Suherman, 2015).
Secara akumulatif, rata-rata indeks vitalitas bahasa berada pada tingkat 50,44%. Penurunan paling tajam terjadi pada kelompok generasi muda (remaja 38,88%), yang terimbas oleh homogenitas lingkungan, dominasi bahasa Indonesia di media massa, serta minimnya penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar harian (Enawar dkk., 2024; Fauzan dkk., 2022).
BAB IV: KLASIFIKASI DAN KEDUDUKAN LINGUISTIK
4.1 Posisi Dialek dalam Kekerabatan Bahasa Jawa
Klasifikasi genealogis bahasa Jawa dialek Banten menjadi diskursus menarik di kalangan peneliti bahasa. Iskandarwassid dkk. (1985) menempatkan dialek Banten dalam jalur kekerabatan langsung dengan rumpun bahasa Jawa Cirebon. Sistem inventaris fonem dialek Banten dinilai identik dengan dialek Cirebon, yang secara tipologis memiliki perbedaan sistem vokal dibandingkan dengan bahasa Jawa standar ragam Surakarta/Yogyakarta.
Pandangan ini didukung oleh Falah (2018) dan Yakin (2016) yang memasukkan dialek ini ke dalam kelompok Jawa Dialek Barat (Cirebon-Indramayu), yang secara historis terhubung dengan dialek Banyumasan. Sebaliknya, Uyu Muawwanah berpendapat bahwa dialek Banten lebih tepat diposisikan sebagai ragam otonom mandiri. Hal ini didasari oleh isolasi geografisnya yang terkepung oleh wilayah bahasa Sunda Banten serta perkembangan inovasi internal yang terpisah dari pusat Cirebon selama berabad-abad.
4.2 Dinamika Kontak Bahasa dan Penyerapan Leksikal
Secara historis, Chudari (2011, dalam Rohbiah, 2022) mengajukan hipotesis bahwa dialek Banten merupakan hasil amalgamasi budaya dan bahasa antara Jawa Demak, Cirebon, dan Sunda Banten. Sementara itu, Rohbiah dan Mu'awwanah (2023) mengidentifikasi adanya jejak pengaruh dari bahasa Betawi serta bahasa Lampung di kawasan pesisir.
Namun demikian, dalam kerangka linguistik komparatif, fenomena kontak bahasa (language contact) dan penyerapan kata pinjaman (borrowed words) tidak boleh dikacaukan dengan klasifikasi genealogis (genetic classification). Kehadiran kosakata serapan dari bahasa Sunda atau Betawi tidak serta-merta mengubah status silsilah genetis bahasa Jawa dialek Banten sebagai bagian dari rumpun bahasa Jawa.
BAB V: TATA BAHASA DESKRIPTIF
5.1 Sistem Bunyi (Fonologi)
1. Inventaris Fonem
Berdasarkan dokumentasi Iskandarwassid dkk. (1985), bahasa Jawa dialek Banten memiliki 24 fonem segmental, yang terdiri atas 6 fonem vokal (/i,e,a,ɔ,u,ə/) dan 18 fonem konsonan (/b,p,t,d,g,k,ŋ,j,c,s,h,r,l,m,n,ɲ,w,y/). Berbeda dari bahasa Jawa standar, dialek Banten tidak mengenal oposisi biner antara konsonan dental dan retrofleks (/d/ vs /ɖ/ serta /t/ vs /ṭ/), dan tidak memiliki hambat glotal (/ʔ/). Adapun Patmadiwiria (1977) mencatat 26 fonem karena memasukkan fonem hamzah dan membedakan varian vokal [ɛ] secara otonom.
2. Realisasi Fonem Vokal Akhir /a/
Ciri fonetis paling menonjol dari dialek Banten terletak pada realisasi fonem /a/ terbuka di posisi akhir kata:
- Varian Pepet [ə]: Di kawasan perkotaan seperti Kota Serang, Kasemen, dan Cipocok Jaya, vokal akhir direalisasikan sebagai bunyi pepet [ə] (contoh: sira dibaca [sirə]).
- Varian [a] Murni: Di wilayah Kragilan, Kibin, Cikande, Kopo, dan Pamarayan, pelafalan dipertahankan sebagai [a] murni (Saraswati, 2008, dalam Falah, 2018).
- Inovasi Fonologis: Rohbiah (2022) mengidentifikasi 185 varian perubahan fonologis di perbatasan Kabupaten Serang, termasuk pergeseran vokal [ə]→[a] akibat kontak intensif dengan bahasa Sunda dan Betawi.
3. Distribusi dan Aksen Akustik
Seluruh vokal dapat menempati posisi awal, tengah, maupun akhir kata, kecuali fonem /ə/ yang tidak pernah muncul mandiri di posisi akhir kata tanpa terikat. Konsonan /ɲ,j,c,w/ tidak pernah menduduki posisi akhir kata (Iskandarwassid dkk., 1985). Melalui pendekatan fonetik akustik, Prihartono (2020) menemukan bahwa suku kata bersufiks -aken memiliki kontur pergerakan nada (pitch movement) yang menonjol dan durasi temporal lebih panjang, yang membentuk aksen penuturan (prosody) khas Banten.
5.2 Pembentukan Kata (Morfologi)
1. Afiksasi (Pengimbuhan)
Morfologi bahasa Jawa Banten bertumpu pada proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi (Iskandarwassid dkk., 1985):
- Prefiks Aktif: Varian nge- di depan konsonan (ngejaluk "meminta"), ng- di depan vokal (ngajak "mengajak"), serta proses nasalisasi homorgan (pilu → milu "ikut", tutu → nutu "menumbuk").
- Prefiks Pasif & Lainnya: Prefiks pasif di- (dibeli), prefiks ke- untuk ketidaksengajaan (kepaksa "terpaksa"), prefiks se- ("satu"), dan infiks -um- (tumeka "sampai").
- Sufiks: Sufiks kepemilikan -e/-ne (anake "anaknya"), sufiks kausatif -aken/-kaken (tuku → tukuaken "belikan"), sufiks imperatif -en/-nen (terimanen "terimalah"), serta sufiks arkais -a (manjinga "masuklah").
- Konfiks: Konfiks ke-…-an (kewentenan "keadaan", kecilikan "terlalu kecil") dan pe-…-an (pegawean "pekerjaan").
2. Tingkat Tutur (Speech Levels)
Sistem tingkat tutur dalam dialek Banten terbagi secara dikotomis menjadi dua tingkatan utama:
- Ragam Bebasan (Halus): Setara dengan ragam krama pada bahasa Jawa standar, digunakan kepada orang tua, tokoh masyarakat, atau situasi formal.
- Ragam Standar (Biasa): Digunakan dalam pergaulan sehari-hari antarsebaya (Falah, 2018; Suherman, 2015).
Tabel 5.1 Perbandingan Leksikal Tingkat Tutur
| Ragam Standar | Ragam Bebasan (Halus) | Terjemahan Indonesia |
|---|---|---|
| ora | boten | tidak |
| durung | dereng | belum |
| isun / kita | kula | saya |
| arep | ayun | hendak / mau |
| balik | mantuk | pulang |
5.3 Struktur Frasa, Klausa, dan Kalimat (Sintaksis)
1. Frasa Endosentris dan Eksosentris
- Frasa Nomina (Endosentris Atributif): Unsur inti berada di depan (musim udan "musim hujan"), namun determinat atau numeralia mendahuluinya (rong kilo "dua kilo"). Partikel penguat pisan ("sekali") selalu mengikuti adjektiva (kentel pisan "kental sekali") (Iskandarwassid dkk., 1985).
- Frasa Direktif (Eksosentris): Ditandai oleh preposisi ning ("di, ke"), sing ("dari"), atau saking (ragam halus "dari"). Preposisi ning juga berfungsi sebagai penanda pelaku dalam kalimat pasif (diisungi ning kepala desa "diberi oleh kepala desa").
2. Tipe Pola Klausa
Iskandarwassid dkk. (1985) mengklasifikasikan klausa dialek Banten ke dalam 6 tipe utama:
- FN + FV: Deweke durung balik ("Dia belum pulang").
- FN + FN: Niki anak kula sing bungsu ("Ini anak saya yang bungsu").
- FN + FAj: Dina iki hawane adem bener ("Hari ini udaranya dingin sekali").
- FN + FAdv: Sekolahe sore ("Sekolahnya sore").
- FN + FPrep: Griyane sing ambing kiwa ("Rumahnya yang sebelah kiri").
- FN + FNum: Kepengene mah limang atus ("Inginnya lima ratus").
3. Negasi dan Kalimat Majemuk
Negasi klausa menggunakan ora/boten ("tidak") dan durung/dereng ("belum"). Kalimat larangan menggunakan partikel aja (standar) atau napik (bebasan). Penanda pertanyaan (interogatif) memanfaatkan partikel tah di akhir kalimat (Wis ngaji tah sira sore iki? "Sudah mengaji kah kamu sore ini?").
Dalam ragam lisan, pelepasan subjek (ellipsis) sering terjadi apabila konteks situasi telah dipahami (Ngadem dingin ning kene "Berteduh dulu di sini").
BAB VI: KOSAKATA, TRADISI TULIS, DAN ROMANISASI AKSARA PEGON
6.1 Dinamika Leksikon dan Pengaruh Luar
Khasanah kosakata bahasa Jawa dialek Banten merefleksikan perpaduan unsur warisan lokal dan serapan historis. Falah (2018) memetakan pengaruh kuat dari bahasa Cirebon pada leksikon seperti maler ("masih"), ayun ("hendak"), saos ("saja"), dan kelawan ("dan"). Sementara itu, interaksi dengan masyarakat Sunda Banten menyerap partikel diskursus mah dan oge ke dalam tata bahasa lisan di wilayah Tangerang dan Serang Selatan (Agus Sulaeman, 2017).
6.2 Ortografi Aksara Pegon Modern vs. Naskah Klasik
Manuskrip klasik Banten umumnya ditulis dalam format Pegon gundhil tanpa harakat dengan beberapa konvensi khas, seperti penggunaan huruf qāf untuk bunyi /k/ (qula) dan huruf dāl bertitik untuk penanda dialek lokal (Pudjiastuti, 2007; Yakin, 2015).
Dalam upaya modernisasi, Pemerintah Kota Serang menerbitkan Peraturan Walikota (Perwal) Serang Nomor 100 Tahun 2021 tentang Penggunaan Tulisan Aksara Arab Pegon. Perwal ini menetapkan standar pengatur ortografi Pegon untuk papan nama jalan dan instansi resmi, yang meliputi:
- Vokal Standar: A, I, U, dan E pepet.
- Konsonan Tambahan (5 Huruf Modifikasi Bertitik Tiga):
- C (ج bertitik tiga → چ)
- P (ف bertitik tiga → ڤ)
- NY (ي bertitik tiga → ڽ)
- NG (ع bertitik tiga → ڠ)
- G (ك bertitik tiga → ڬ)
Tabel 6.1 Pedoman Transliterasi Pegon Standar (Library of Congress, 2012)
| Huruf Latin | Huruf Pegon Standard | Contoh Kata | Transliterasi Pegon |
|---|---|---|---|
| g | ڬ | gêlati | ڬلت |
| ng | ڠ | sipêng | سڤڠ |
| ny | ڽ | nyatoni | ڽتوني |
| c | چ | cilik | چليك |
| p | ڤ | paliwara | ڤليور |
Program revitalisasi literasi Pegon ini terbukti mendapat respons positif dari komunitas pendidikan dan pesantren sebagai upaya menjaga identitas kebudayaan lokal (Ghofur dkk., 2023; Sadono dkk., 2026).
BAB VII: PENGGUNAAN, PEMBELAJARAN, DAN KEBERLANJUTAN BAHASA
7.1 Kebijakan Pendidikan dan Tantangan Pembelajaran
Pemerintah Daerah di Banten telah menerbitkan regulasi muatan lokal (mulok) bahasa daerah di jenjang SD hingga SMA (Fauzan dkk., 2022). Di sekolah-sekolah dasar seperti SDN 13 Kota Serang dan SDN Kota Bumi Cilegon, pelaksanaan pembelajaran dilangsungkan melalui alokasi dua jam pelajaran per minggu, didukung program pembiasaan seperti Kamis Bebasan dan penyusunan Kamus Alit (kamus kecil).
Namun, tantangan di lapangan tetap dijumpai. Riset menunjukkan bahwa kendala utama pembelajaran mulok meliputi:
- Heterogenitas latar belakang siswa di wilayah perkotaan.
- Minimnya penguasaan ragam bebasan (halus) di kalangan guru pendidik.
- Kurangnya pembiasaan penggunaan bahasa daerah di lingkungan rumah (Fauzan dkk., 2022).
7.2 Inovasi Media Pembelajaran dan Peran Keluarga
Guna mengatasi hambatan tersebut, berbagai inovasi media pembelajaran berbasis digital dan interaktif terus dikembangkan:
- Media Flash Card: Peneliti menguji penggunaan flash card kosakata bahasa Jawa Banten di SD, yang terbukti sangat layak dan efektif meningkatkan perbendaharaan kata siswa (ADDIE model).
- Multimedia SQ3R: Penggunaan media interaktif berbasis metode Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) berhasil meningkatkan kemampuan membaca pemahaman teks bahasa daerah secara signifikan (N-Gain 0,82).
- Buku Cerita Bergambar (Big Book): Falah (2018) mengembangkan media Big Book berbahasa Jawa Babasan Banten untuk anak usia dini (5–6 tahun) yang tervalidasi layak untuk mengenalkan bahasa halus sejak dini.
Di samping jalur formal, ranah keluarga dan pola pengasuhan (parenting) merupakan benteng utama pemertahanan bahasa (Suherman, 2015; Wajdi, 2025). Pengenalan sapaan dan kosakata dasar di rumah menjadi langkah krusial.
Tabel 7.1 Matriks Kosakata Dasar Bahasa Jawa Banten untuk Anak
| Kosakata Banten | Transliterasi Pegon | Bahasa Indonesia | English |
|---|---|---|---|
| abah | ابه | ayah / bapak (halus) | father (polite) |
| ibu | ابو | ibu | mother |
| kaka | كك | kakak | older sibling |
| nong | نوڠ | nak (sapaan anak perempuan/kecil) | child (term of address) |
| apik | اڤك | rajin / suka kebersihan | diligent / neat |
Tiga kebiasaan transformatif yang direkomendasikan bagi orang tua meliputi:
- Membiasakan komunikasi interaktif menggunakan kosakata pilihan saat aktivitas domestik (makan, bermain).
- Membudayakan sapaan halus (abah, ibu, dika) saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua.
- Mendampingi anak membaca buku cerita bergambar atau menyanyikan tembang anak tradisional Banten (Mangoen Di Karia, 1914).
BAB VIII: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
8.1 Kesimpulan
Eksistensi bahasa Jawa dialek Banten merupakan warisan sosio-kultural dan intelektual yang bernilai tinggi. Pembahasan holistik dalam naskah ini membuktikan bahwa:
- Dimensi Sejarah Filologis: Bahasa Jawa Banten beraksara Pegon memiliki rekam jejak otentik sebagai bahasa resmi pemerintahan, hukum (Register Kadi), dan diplomasi internasional (Surat Kesultanan) pada abad ke-18 hingga ke-19.
- Dimensi Linguistik Deskriptif: Dialek ini memiliki keunikan sistem fonom (24/26 fonem), pergeseran vokal akhir [a]/[ə], tata bentuk kata afiksasi yang produktif, serta sistem tingkat tutur (bebasan vs standar) yang lebih sederhana dibanding Jawa standar.
- Dimensi Sosiolinguistik & Pembelajaran: Terjadi tren penurunan penggunaan bahasa di kalangan remaja (vitalitas 38,88%), namun peluang pemertahanan terbuka lebar melalui inovasi media pembelajaran digital (flash card, SQ3R, Big Book), regulasi Pegon (Perwal No. 100/2021), dan penguatan domain keluarga.
8.2 Rekomendasi Riset dan Aksi Pelestarian
- Standardisasi Perkamusan: Mendorong kompilasi kamus digital interaktif yang melengkapi karya klasik Mas Mangun Di Karia (1914) dan Munadi Patmadiwiria (1977) dengan korpus data lisan dan tulis modern.
- Penguatan Kurikulum Mulok: Meningkatkan pelatihan kompetensi ragam bebasan bagi guru bahasa daerah di sekolah dasar dan menengah.
- Digitalisasi Naskah Pegon: Melakukan penyelamatan, alih aksara, dan alih bahasa terhadap naskah-naskah kuno Banten agar dapat diakses secara terbuka oleh publik akademis dan generasi muda.
DAFTAR REFERENSI
- Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. (2026). Jumlah penduduk menurut kabupaten/kota dan jenis kelamin di Provinsi Banten (ribu jiwa), 2026. Tabel Statistik BPS Banten. https://banten.bps.go.id/
- Chudari, A. M. (2012). Kamus bebasan/undak-usuk bahasa Jawa Banten. Pustaka Sarana Cipta.
- Enawar, dkk. (2024). Perbandingan penggunaan bahasa Jawa Serang dan Jawa Mauk pada masyarakat Banten. Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 13(2), 185–193.
- Falah, F. (2018). Pengembangan media big book berbahasa Jawa babasan Banten bagi anak usia 5–6 tahun. JPP PAUD FKIP Untirta, 5(2), 103–112.
- Fauzan, A., Juwandi, R., & Nida, Q. (2022). Peran Pemerintah Kabupaten Serang dalam menjaga kebudayaan daerah bahasa Jawa dialek Banten. Jurnal Kewarganegaraan, 6(1), 76–90.
- Ghofur, M. A., Asnawan, Aminullah, & Maghfiroh, A. H. (2023). Pendampingan santriwati dalam memahami Kitab Akhlaqun Nisa'. Pandalungan: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1).
- Gorlinski, V., & Tikkanen, A. (2012, 4 Mei). Banten – History, culture & tourism in Indonesia. Britannica. https://www.britannica.com/place/Banten-province-Indonesia
- Iskandarwassid, Mulyana, Y., Hudari, A., Kartimi, T., & Sjarif, S. (1985). Struktur bahasa Jawa dialek Banten. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
- Joshua Project. (t.t.). Java Banten in Indonesia. https://www.joshuaproject.net/people_groups/10661/ID
- Karia, M. M. di. (1914). Dialect Djawa Banten. G. Kolff.
- Kuswanto, A., Adhimah, I., & Aziz, A. M. (2025). Pembelajaran aksara pegon pada instansi pendidikan formal. Jurnal Muassis Pendidikan Dasar, 4(1).
- Lewis, M. P., Simons, G. F., & Fennig, C. D. (Eds.). (2015). Ethnologue: Languages of the world (ed. ke-18). SIL International.
- Library of Congress. (2012). Jawi-Pegon romanization table.
- Maryani, Y. (2016). Enklave bahasa Jawa di pesisir utara, daerah periferal barat dan selatan, dan pesisir selatan Provinsi Banten [Disertasi doktoral, UGM]. https://etd.repository.ugm.ac.id/
- Maulida Diva Karamah. (2026, September 28). Mengenal tiga bunyi huruf e dalam bahasa indonesia: É, è, dan ê. Lembaga Bahasa Internasional FIB UI. https://lbifib.ui.ac.id/id/blog/artikel/mengenal-tiga-bunyi-huruf-e-dalam-bahasa-indonesia-e-e-dan-e
- Patmadiwiria, M. (1977). Kamus dialek Jawa Banten–Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
- Peraturan Walikota Serang Nomor 100 Tahun 2021 tentang Penggunaan Tulisan Aksara Arab Pegon. (2021). Berita Daerah Kota Serang Tahun 2021 Nomor 165.
- Poedjosoedarmo, S. (1968). Javanese speech levels. Indonesia, 6, 54–81.
- Prihartono, W. (2020). Identifikasi aksen tuturan representatif bahasa Jawa dialek Banten: Pendekatan fonetik akustik. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 9(2), 400–412. https://doi.org/10.26499/rnh.v9i2.2926
- Pudjiastuti, T. (2007). Perang, dagang, persahabatan: Surat-surat Sultan Banten. Yayasan Obor Indonesia.
- Rohbiah, T. S. (2022). Inovasi fonologi bahasa Jawa dialek Banten di perbatasan Kabupaten Serang Provinsi Banten. Dalam Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya 20 (hlm. 357–363). Unika Atma Jaya.
- Rohbiah, T. S., & Mu'awwanah, U. (2023). External innovation in Javanese vocabulary of Banten dialect. Scope: Journal of English Language Teaching, 8(1). https://doi.org/10.30998/scope.v8i1.17779
- Sadono, S., Nugraha, N. D., & Trihanondo, D. (2026). Revitalisasi literasi Pegon di pondok pesantren. Imajinasi: Jurnal Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi, 3(1), 10–20. https://doi.org/10.62383/imajinasi.v3i1.1074
- Suherman, E. (2015). Variasi penggunaan bahasa dan pemertahanan bahasa Jawa Serang di Cilegon. Edusentris, 2(3), 218–226.
- Sulaeman, A. (2017). Javanese language of Banten dialects in Tangerang Regency. Journal of English Language and Literature (JELL), 2(1).
- Taufiq, M. A., Wafa, R., Hasanah, D., Syaikhu, A., & Bakhruddin, M. (2022). Suntingan teks bait nazam kitab Muhafadhatu al-Sibyaan. Suluk: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 4(2), 128–137. https://doi.org/10.15642/suluk.2022.4.2.128-137
- Wajdi, F. (2025). Mewariskan kebaikan melalui kata: Peran bahasa daerah stratifikasi tinggi dalam parenting dan pembentukan karakter. Dalam Bintang Kecil (hlm. 7–14). Alineaku.
- Yakin, A. U. (2015). The register of the Qadi court "Kiyahi Pěqih Najmuddin" of the Sultanate of Bantěn, 1754–1756 CE. Studia Islamika, 22(3), 443–486. https://doi.org/10.15408/sdi.v22i3.2354
- Yakin, A. U. (2016). Undhang-Undhang Bantĕn: A 17th to 18th-century legal compilation from the qadi court. Indonesia and the Malay World, 44(130), 365–388. https://doi.org/10.1080/13639811.2016.1229859